Ini 10 Fakta Tes Keperawanan yang Mengejutkan

By |2018-11-08T02:47:23+09:00February 11th, 2017|Health, Lifestyle|Comments Off on Ini 10 Fakta Tes Keperawanan yang Mengejutkan


Source: Adrianna Calvo

Apa itu tes keperawanan? Kata-kata ini mungkin sering kita dengar di kehidupan sehari-hari, tapi hanya sedikit sekali dari kita yang pernah menjalaninya. Tes keperawanan adalah sebuah prosedur untuk mengetahui apakah seorang wanita pernah melakukan hubungan seksual. Bagaimana caranya? Apa pula hal-hal menarik yang terkait dengannya? Berikut adalah 10 fakta mengenai tes keperawanan yang akan membuat Anda terkejut.

1.  Alasan-alasan Tes Keperawanan


Source: Pixabay

Tes keperawanan adalah sebuah prosedur yang telah jarang sekali dipraktekkan, terutama di negara-negara maju. Namun, wilayah-wilayah Asia, Afrika, dan Timur Tengah masih banyak menerapkan tes ini. Pasalnya, keperawanan masih dianggap sebagai sesuatu yang sakral bagi sebagian besar penghuninya.

Pada umumnya, ada setidaknya tiga alasan mengapa tes ini dilakukan. Pertama, untuk mengetahui apakah wanita pernah melakukan hubungan seks pranikah. Di beberapa area, calon pengantin pria meminta tes ini dilakukan sebelum pernikahan diselenggarakan. Kedua, untuk prosedur pemeriksaan korban pada kasus-kasus perkosaan. Sedangkan yang terakhir, untuk memenuhi syarat masuk institusi-institusi tertentu.

2. Tidak Bisa Dilakukan Saat Sedang Menstruasi


Source: Foundry

Tes keperawanan dilakukan oleh dokter khusus dengan tujuan untuk menyimpullan apakah selaput dara seorang wanita masih utuh. Selaput dara atau hymen adalah sebuah lapisan membran tipis yang menutupi bibir dan dinding vagina bak katup. Karena tes keperawanan dilakukan dengan menginspeksi kondisi vagina wanita, maka tes ini tidak bisa dilakukan ketika seorang wanita masih dalam periode menstruasinya. Keluarnya darah haid akan mengganggu proses pemeriksaan. Karena itu, seorang wanita harus menunggu masa haidnya selesai untuk bisa melakukan ini.

3. Dilakukan pada Posisi Berbaring


Source: AllClear55

Hanya dokter ahli di rumah sakitlah yang berwenang melakukan tes ini. Tes keperawanan dilakukan dalam metode mirip dengan pap smear. Wanita yang akan diperiksa selaput daranya harus berbaring di atas tempat tidur dengan kondisi rileks dan nyaman. Seringkali, sang wanita akan cemas atau ketakutan dengan tes ini. Apalagi sebagian besar wanita yang menjalani tes ini sama sekali belum pernah merasakan masuknya objek di dalam vaginanya. Namun, kondisi rileks diperlukan justeru agar tidak merasa sakit ketika tes dilakukan. Sedangkan, posisi tubuh yang diinstrusikan oleh dokter adalah telentang dengan kedua kaki dinaikkan dan dibuka lebar dalam posisi terbuka lebar, mirip seperti wanita yang tengah melahirkan. Posisi ini akan memudahkan dokter menginspeksi vagina wanita tanpa berlebihan melakukan paksaan.

4. Menggunakan Alat Bernama Spekulum

https://www.instagram.com/p/4-BBOrsHez/

Tes keperawanan yang sesuai dengan prosedur dokter biasanya dilakukan dengan menggunakan alat bantu bernama spekulum. Alat ini berfungsi untuk membantu membuka bibir vagina. Terbukanya bibir vagina membuat dokter bisa melihat apakah selaput dara di dalamnya masih utuh atau telah terkoyak. Utuhnya selaput dara akan membuat dokter menarik kesimpulan bahwa sang wanita masih perawan.

5. Cara-cara yang Aneh di Berbagai Negara


Source: Collin Jackson

Namun, tes keperawanan tidak hanya dilakukan dengan cara medis. Di berbagai negara, masih dilakukan tes keperawanan tradisional yang tidak berdasarkan kajian ilmiah apa pun. India adalah contoh negara dimana tes kadangkala masih diadakan dengan cara tradisional. Salah satu caranya adalah dengan berjalan di dalam air dan menahan napas. Wanita perawan harus mampu membuktikannya dengan berjalan seratus langkah dalam waktu cepat. Cara lain adalah dengan menggenggam bara besi panas yang tengah membara. Jika sang wanita gagal dalam tantangan ini, ia dinilai telah kehilangan keperawanannya dan diharuskan untuk mengungkap kepada siapa ia menyerahkan keperawanan tersebut. Sedangkan di Maroko, tes keperawanan sering dilakukan dengan menggunakan bantuan telur. Suku Zulu di Afrika menggunakan prosesi dimana patahnya tongkat yang dibawa oleh seorang wanita menandakan telah hilangnya keperawanan wanita tersebut. Selain itu, mereka juga melakukan inspeksi vagina dan melihat tanda-tanda keperawanan dari pantat dan buah dada yang kencang dan perut yang rata.

6. Tes Dua Jari


Source: ElisaRiva

Di Indonesia, beberapa instansi seperti militer dan kepolisian menggunakan model tes dua jari untuk mengetahui status keperawanan calon prajurit wanitanya. Seperti namanya, tes dua jari dilakukan dengan memasukkan telunjuk dan jari tengah ke dalam vagina untuk memastikan bahwa selaput dara wanita masih utuh. Jika jari yang dimasukkan terblokir oleh membran yang membuatnya tak bisa maju lebih dalam, sang wanita dinyatakan masih perawan. Menurut militer, tes ini penting bagi seorang prajurit sebagai salah satu syarat penilaian moralitas.

7. Ditentang Aktivis Hak Asasi


Source: typographyimages

Beberapa tahun lalu, kontroversi tes keperawanan militer ini memanas. Indonesia mendadak menjadi sorotan dunia. Organisasi-organisasi hak asasi manusia seperti Human Rights Watch mengkritisi tes ini dan meminta militer berhenti menjadikan tes ini syarat untuk menjadi calon prajurit wanita. Menurut HRW, tes ini melanggar hak-hak asasi wanita karena bersifat diskriminatif, tak mengacuhkan privasi, dan merendahkan. Begitu pula dengan Komnas HAM yang mengkritisi tes ini habis-habisan dan meminta tes ini segera dihapus dari prosedur penerimaan prajurit. Para pejuang HAM ini menganggap bahwa para wanita tidak seharusnya dilihat hanya dari keadaan vaginanya, melainkan diukur dari kemampuan dan potensi-potensinya.

8. Tidak Akurat Membuktikan Keperawanan


Source: Pexels

Selain itu, tes keperawanan sebenarnya tidak dianggap absah dalam dunia medis. Bahkan, di dunia medis, tes ini bak mitos saja. Anggapan bahwa selaput dara dapat dijadikan tolak ukur status keperawanan seseorang adalah sesuatu yang salah kaprah dan terlalu sederhana. Alasan pertama adalah karena selaput dara bisa robek karena sebab-sebab selain aktivitas seksual, seperti berkuda, bersepeda, tindakan medis seperti pap smear, cedera liang vagina, bahkan melakukan gerakan-gerakan senam. Robeknya selaput dara pun juga tidak selalu disertai rasa sakit atau pendarahan, sehingga bisa jadi sang wanita tidak menyadarinya. Selain itu, definisi keperawanan hingga saat ini masih diperdebatkan banyak orang. Selain penetrasi vagina, aktivitas seksual juga bisa dilakukan dengan cara-cara lain, yang tidak mempengaruhi utuhnya selaput dara.

9. Traumatik bagi Wanita


Source: RyanMcGuire

Dampak-dampak tes keperawanan terhadap wanita ternyata lebih banyak yang bersifat negatif. Selain tidak menghargai wanita dan diskriminatif seperti yang diserukan oleh para aktivis HAM, tes keperawanan juga menimbulkan efek trauma. Perasaan dipermalukan serta sakit yang mengiringi tes sering membuat wanita terbayang-bayang setelahnya. Terlebih lagi jika hasil tak sesuai dengan dugaan, karena alasan apa pun, dan sang wanita harus menanggung aib dan malu yang diketahui oleh orang-orang terdekatnya. Trauma ini akan berdampak rusaknya kepercayaan diri wanita tersebut.

10. Bisa Dikelabui dengan Operasi


Source: Pixabay

Selain itu, tes ini juga bisa dikelabuhi dengan beberapa cara untuk mengembalikan keperawanan. Cara yang paling umum adalah dengan hymenoplasty atau operasi rekonstruksi selaput dara. Wanita yang selaput darahnya telah koyak bisa mengembalikan keutuhan selaput tersebut lewat operasi ini. Walaupun tergolong mahal, ini bukan jenis operasi rumit dan membutuhkan proses yang lama.

Ladies, itulah fakta-fakta menarik dan mengejutkan untuk menambah pengetahuan kita mengenai tes keperawanan.

Loading...