15 Fakta Sejarah Uang Di Indonesia Yang Tidak Banyak Diketahui

Share on Pinterest
Share with your friends










Submit


Source: Anis Eka

Sebagai warga negara Indonesia, Rupiah adalah mata uang resmi yang kita gunakan sebagai alat tukar barang atau jasa. Namun tidak banyak orang yang mengeahui sejarah tentang uang di Indonesia, baik itu tentang Rupiah maupun sebelumnya. Berikut ini beberapa fakta menarik dari uang yang pernah dan yang sedang berlaku di Indonesia.

1. Mata Uang Ma Pada Masa Kerajaan Mataram Syailendra


Source: Anthony Kramp

Sejarah mata uang kerajaan Indonesia sudah dimulai pada masa kejayaan Mataram Kuno, yaitu pada dinasti Syailendra di abad 8-9. Kerajaan yang mendirikan Borobudur ini menggunakan kepingan emas dan perak berbentuk kotak sebagai alat tukarnya. Mereka mempunyai tiga nominal sebagai satuan tukarnya. Yang tertinggi adalah 1 Ma atau Masa yang seberat 2,4 gram emas. Dibawahnya adalah Atak yang senilai setengah Ma, lalu yang terendah adalah Kupang yang senilai setengah Atak.

2. Kerajaan Jenggala Yang Menggunakan Kepingan China


Source: Jimmie

Kerajaan Jenggala berkuasa di bagian timur pulau Jawa. Pada masa jayanya di era 1042-1130 M, kerajaan ini banyak menjalin hubungan dengan China, sehingga uang yang banyak digunakan adalah kepingan emas dan perak dari China. Kepopulerannya melebihi kepingan emas dan perak peninggalan kerajaan Mataram. Ini adalah bukti kuatnya hubungan dagang dengan China.

3. Bentuk Uang Kerajaan Majapahit Yang Tak Beratur


Source: Fotoguy

Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang memiliki pengaruh besar dalam pemebentukan Nusantara yang menjadi cikal bakal Indonesia. Kerajaan Majapahit kembali menggunakan mata uang yang pernah digunakan pada masa kerajaan Mataram, yaitu Ma. Namun tak hanya mengikuti bentuknya yang kotak, mata uang Majapahit berbentuk macam-macam berupa segitiga, lingkaran, bahkan bentuk yang tak jelas. Ini menegaskan bentuk rupa tak penting selama memili cap teratai di atasnya, uang itu berlaku. Mata uang ini digunakan hingga akhir masa jaya di tahun 1500 M.

4. Kerajaan Samudra Pasai Menggunakan Dirham


Source: Jean-Michele Moullec

Setelah lenyapnya kerajaan Hindu-Buddha, lahirnya kejayaan kejayaan Islam. Samudra Pasai adalah kerjaan Islam pertama di Nusantara. Sejak 1927-1326 mata uang ini mengkuti mata uang yang populer di negara-negara semenanjung arab. Namun Dirham mlik Samudra Pasai ini memiliki nilainya sendiri. 16 Dirham setara dengan 1 Real Spanyol, dan 5 Dirham setara 1 Silling Inggris.

5. Istilah Picisan Yang Berasal Dari Kesultanan Cirebon


Source: Midori

Pada kesultanan Cirebon, mata uangnya mendapat pengaruh dari China. Dalam pembuatannya pun kesultanan meminta bantuan seseorang dari bangsa Cina. Mereka menamakan uang mereka yang berbentuk pipih dari timah ini dengan sebutan Picis. Meski populer, namun uang ini tidak memiliki kualitas yang baik hingga sering pecah. Dari sinilah istilah picisan bermula.

6. Kesultanan Sumenep Menggunakan Mata Uang Spanyol, Belanda, dan Austria


Source: Godot13

Masuknya Spanyol ke Sumenep mempengaruhi kerajaan untuk mengadopsi mata uangnya. Uang ini populer di kalangan bangsawan Sumenep dan biasa digunakan untuk bertransaksi. Selain itu, kerajaan ini juga menggunakan Gulden dari Belanda, dan Thaler dari Autria.

7. Uang Pada Masa Kolonial Belanda Dan Jepang


Source: Makthorpe

Perekonomian Indonesia pada era kolonial tidak terlepas dari pengaruh VOC yang menyebarluaskan penggunaan Gulden sebagai mata uang yang sah untuk bertransaksi. Meski begitu, dolar juga terdapat dalam transaksi di daerah-daerah Jawa dan Sumatra. Pada masuknya Jepang di Indonesia, Jepang mengedarkan mata uangnya sendiri, namun Gulden tetap digunakan dengan tulisan “De Japansche Regering” yang berarti pemerintah Jepang. Selain gulden dan mata uang Jepang, Hindia-Belanda mengedarkan mata uangnya sendiri dengan nama Rupiah Hindia-Belanda pada 1944. Namun hanya bertahan satu tahun karena imbas dari peperangan.

8. ORI Sebagai Mata Uang Pertama Indonesia


Source: National Numismatic Collection, National Museum of American History

Indonesia yang baru merdeka mengeluarkan ORI (Oeang Republik Indonesia) yang dirasa penting sebagai identitas negara. Terbitnya ORI beriringan dengan ketegasan bahwa uang Japang, dan Hindia-Belanda sudah tidak berlaku lagi. Meski didukung masyarakat, namun luasnya wilayah Indonesia menjadi masalah bagi peredaran ORI. Di Sumatra pada era itu, banyak yang masih menggunakan mata uang Jepang.

9. Asal Usul Nama Rupiah


Source: Kandang Vicong

Empat tahun setelah kemerdekaan, pemerintah Indonesia menetapkan Rupiah sebagai mata uang yang baru. Banyak yang mengira nama Rupiah berasal dari Rupee India yang cukup populer dari para pedagan India yang datang ke Indonesia. Namun sebenarnya berasal dari bahasa Sansekerta, Rupia yang berarti Perak. Meski memiliki kesamaan arti dengan rupee India, namun ini adalah pelafalan sendiri dengan ditambah ‘h’ dibelakang.

10. Satuan Di Bawah Rupiah


Source: Eka Anis

Pada awal kemunculan Rupiah, nilainya disamakan dengan nilai Gulden Hindia Belanda yang sebelumnya populer beredar. Berlaku juga satuan-satuan dengan nominal yang lebih kecil yang berlaku sebelumnya. Satuan yang memiliki nilai dibawah Rupiah adalah Sen dengan lambang ¢. 1 ¢ bernilai Rp 0,01. Dan Rp 1 setara dengan 100 ¢. Adapula sebutan alternatif untuk suatu nominal yang populer digunakan saat itu, seperti cepeng yang bernilai seperempat ¢, ketip/kelip senilai 5 ¢, picis senilai 25 ¢, dan tali senilai 50 ¢.

11. URIRS, Rupiah Kepri, Dan Rupiah Irian Barat


Source: Minopueblo

Karena masalah peredaran ORI, pada 8 April 1947 gubernur provinsi Sumatera mengeluarkan rupiahnya sendiri Uang Republik Indonesia Provinsi Sumatera (URIPS) melalui Maklumat No. 92/KO. Hal ini untuk melawan kecurangan dari pemerintah Belanda yang mengedarkan uang Jepang palsu yang populer di Sumatra saat itu. Uang Jepang palsu membuat nilainya menjadi merosot dan menyebabkan inflasi dan harga-harga melambung tinggi. Untuk itu Gubernur meminta pesetujuan Menteri Keuangan untuk mencetak mata uangnya sendiri yang bernilai 100 uang Jepang. URIPS berlaku hingga 1950.

Hal yang sama terjadi pada Kepulauan Riau dan Papua Barat yang memiliki variasinya sendiri. Namun kemudian penggunaanya dihapuskan pada 1964 di Riau, dan 1974 di Papua Barat.

12. Masa Gelap Rupiah Di Krisis Ekonomi Asia 1998


Source: Arsonal

Pada krisis ekonomi asia di 1998, semua negara ASEAN terkena imbasnya, tak terkecuali Indonesia. Nilai tukar mata uang Rupiah terhadap dollar merosot dari Rp 2.350 per Dollar di Januari 1997, menjadi Rp 14.800 per Dollar di Januari 1998. Hal ini menyebabkan kerusuhan dan penjarahan di hampir seluruh wilayah Indonesia karena harga barang pokok yang melambung tinggi. Puncaknya, Soeharto yang menjabat sebagai Presiden saat itu dipaksa turun dari jabatannya.

Sepuluh tahun kemudian krisis ekonomi berulang dalam skala global. Namun Indonesia mampu bertahan dengan perekonomian yang stabil karena telah belajar dari pengalaman 1998.

13. 100.000 Sebagai Nominal Tertinggi


Source: Bank Indonesia

Imbas dari krisis ekonomi 1998 adalah inflasi yang tinggi, dan membutuhkan nominal uang yang besar. Pada 1999, terbitlah pecahan 100.000 sebagai nominal pecahan tertinggi sepanjang sejarah Rupiah. Pecahan Rp 100.000 pertama terbit dalam bentuk lembaran polimer yang di impor dari Australia. Emisi dalam bentuk polimer ini beredar hingga 2004 yang kemudian diganti dengan uang kertas dengan desain gambar yang tidak banyak berubah.

14. Redenominasi

Wacana denominasi Rupiah muncul Mei 2010. Hal ini karena pecahan uang rupiah terlalu tinggi. Namun sebenarnya itu bukanlah yang pertama kali. Pada masa pemerintahan Soekarno pernah dilakukan dengan istilah Senering memangkas nominal 1000 rupiah menjadi Rp 100, dan Rp 500 menjadi Rp 50 tanpa mengurangi nilai tukarnya. Namun pada masa itu banyak yang mengira bahwa kekayaannya berkurang drastis.

15. Koin-koin Rupiah Edisi Khusus

Bank Indonesia selaku pemegang wewenang peredaran Rupiah, penah menerbitkan uang-uang koin edisi khusus yang memiliki nominal tinggi dari Rp 10.000 hingga Rp 850.000. Namun koin-koin itu diedarkan dalam jumlah terbatas dengan 3000 bahkan hanya ratusan keping. Koin-koin ini terbit sebagai selebrasi suatu masa seperti peringatan 25 tahun kemerdekaan, 45 tahun kemerdekaan, 75 tahun kemerdekaan, edisi Save The Children bersama Unicef, dan seri WWF dengan koin cetakan gambar hewan-hewan dilindungi.

Uang Rupiah yang digunakan sebagai alat tukar sehari-hari warga Indonesia memiliki sejarah yang panjang. Untuk itu sebagai warga negara Indonesia yang baik, mari jaga Rupiah kita dari vandalisme seperti yang tercantum dalam undang-undang.

Are you open for next challenge? Expand Your Opportunities in Leaptalent

Share on Pinterest
Share with your friends










Submit
Bisnis, Pengetahuan